Waspada Kanker Payudara? Cegah Dengan Sadanis

Media Doeta Indonesia, Jakarta. 7/11/2017. Satu dari delapan wanita berpotensi memiliki sel kanker payudara yang akan berkembang di sepanjang hidupnya. Bahkan di Indonesia, kanker payudara merupakan pembunuh nomor satu pada wanita. Data yang disebutkan oleh Rumah Sakit Kanker Dharmais menyebutkan sebanyak 60%-70% penderita yang mencari perawatan telah berada pada stadium akhir. hal ini disebabkan karena masih banyak masyarakat enggan untuk pemeriksaan ke klinik dikarenakan takut jika mengetahui apabila positif terjangkit kanker. Padahal, semakin dini tumor didiagnosa, semakin besar pula kesempatan hidupnya.Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) 2016 menyatakan, perilaku masyarakat dalam deteksi dini kanker payudara masih rendah

Diskusi gerakan Sadanis Philips bersama dokter dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia.

Maka dalam bulan Kesadaran Kanker Payudara sedunia yang diperingati setiap Bulan Oktober, Royal Philips (NYSE: PHG, AEX: Phia), perusahaan yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan hidup orang banyak menggelar forum diskusi yang bertema “Lakukan SADANIS, Selamatkan Diri Sejak Dini” dengan menghadirkan para Nara sumber diantaranya

  1. DR. dr. Samuel J. Haryono, SpB (K), spesialis bedah onkologi;
  2. dr Niken Wastu Palupi, MKM, Kasudit Penyakit Kanker & Kelainan Darah, Direktorat P2PTM, Kemenkes
  3. Linda Gumelar, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI);
    Graece Tanus, penyintas kanker payudara yang telah bebas kanker selama 7 tahun terakhir
  4. Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia.

Dalam pemaparannya, dr. Niken Wastu Palupi mengatakan, “masyarakat belum mau memeriksakan gejala kanker payudara umumnya karena merasa tidak ada keluarga yang memiliki penyakit ini. Dan bila sudah tertedeksi lebih dini, barulah ia menjadi stress/was-was. Padahal jika diketahui dini, akan dapat lebih cepat diobati. Karenanya, Edukasi tentang pemeriksaan Sadanis perlu dikampanyekan terus menerus. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh yayasan, pemerintah, pihak swasta, dll. Melakukan Sadanis hanya sekitar 7-10 menit setiap bulan. Sadanis di puskesmas gratis. Orang cenderung malas untuk melakukan sadanis karena takut membayar mahal. Dan untuk pemeriksaan Sadanis dapat dilakukan oleh Dokter/bidan di puskesmas, Yayasan atau instansi yang mudah dijangkau masyarakat, murah dan bahkan bisa gratis.”

Sementara DR. dr. Samuel J. Haryono, SpB (K) menjelaskan, Pola hidup  kalau tidak terkena kanker, tidak akan periksa, karena tidak ada urgency-nya. Seperti ada Benjolan pada payudara yang awalnya tidak terasa sakit, namun ia enggan memeriksakan dini. Dan menurutnya, penyebab kanker payudara berdasarkan statistik disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya ;

  1. Risiko usia tua menurut statistik 30 thn : 1 per 200.
  2. Lifestyle termasuk Alkohol, lemak, obat-obatan dan rokok dapat memicu kanker payudara.
  3. Genetik hanya 5-10% saja. Tetapi banyak anggapan bahwa karena tidak ada riwayat keluarga yang kena, sehingga jadi malas untuk memeriksa dini.

Sementara Linda Gumelar, mengungkapkan masih banyak orang tidak mau melakukan sadanis karena image yang mereka terima: bila terkena kanker, sudah pasti mati. Kenyataannya, kanker yang ditemukan di stadium awal, masih bisa ditolong. Biaya untuk deteksi kanker juga murah. Pelajaran kesehatan reproduksi kurang diberikan di sekolah. Jika sekolah memasukkan program kesehatan reproduksi mejadi pelajaran wajib dan bukan pelajaran ekstra kurikuler, maka tidak perlu banyak kampanye, dan yayasan/pemerintah bisa fokus ke promotif preventif. Di negara maju, kanker payudara terdeteksi di stadium awal.”

Melalui diskusi ini, Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia menyarankan masyarakat juga bisa memeriksakan kanker payudaranya menggunakan mamografi di Rumah Sakit dengan fasilitas subsidi BPJS. Misalnya untuk cek mamografi, subsidi ½ harga sudah sangat membantu. Sehingga subsidi ini dapat membantu mengurangi beban biaya BPJS untuk menangani/mengobati pasien kanker payudara yang saat ini begitu tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *