Sabtu, Februari 24

Rencana Aksi Buruh 6 Februari 2018

Aksi Buruh membanjiri Bunderan HI Jakarta

Media Doeta Indonesia, Jakarta- Puluhan ribu buruh akan melakukan aksi unjuk rasa di 50 kota pada tanggal 6 Februari 2018 nanti bertepatan dengan perayaan HUT Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).

Puncaknya, pada 1 Mei 2018 dalam peringatan May Day, ratusan ribu buruh dari berbagai daerah kawasan industri di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi,NTB, Maluku,dan Sumatera, akan masuk ke Jakarta untuk menyuarakan tuntutan yang sama. Hal itu disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal.

“Buruh menuntut tiga hal (TRITURA), yakni (1) Turunkan harga beras dan listrik – tolak impor beras – wujudkan kedaulatan pangan, (2) Tolak upah murah – cabut PP 78/2015 tentang Pengupahan, (3) Pilkada dan Pilpres :Pilih calon pimpinan saat pilkada dan pilpres yang pro buruh dan anti PP 78/2015,” kata Said Iqbal di Jakarta, Kamis (25/1/2017).

Buruh rencananya akan melakukan aksi demo di Istana Negara dan sejumlah daerah seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Batam, Yogjakarta, Aceh, Bengkulu, Lampung, Makassar, Gorotanlo, Manado, Bajarmasin.

Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Indonsia (KSPI), Said Iqbal menyoroti dengan keras harga beras yang tidak kunjung turun. Padahal beras adalah usuran perut rakyat, termasuk buruh. Sehingga melambungnya harga beras yang gagal diantisipasi oleh Pemerintah semakin menyengsarakan buruh dan rakyat yang mengakibatkan daya beli turun hingga 20%–25%,terlebih di tambah dg kebijakan upah murah.

KSPI juga mempertanyakan sikap presiden Joko Widodo yang terkesan membiarkan dan mendiamkan serta tidak mempunyai sikap tegas perihal impor beras 500 ton dengan membiarkan antar menterinya bersilang kata-kata perihal data-data ketersediaan stock beras. Sangat disayangkan, data yang dimiliki oleh Bulog, Kemendag, dan Kementan berbedar-beda tentang ketersediaan beras. Padahal urusan beras adalah urusan perut rakyat, termasuk buruh.

Said Iqbal tidak sependapat dengan statement Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan yang menyatakan 500 ribu ton impor beras adalah untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan untuk menjaga stabilitas harga beras.

“Faktanya, sebelum harga beras naik, daya naik beli masyarakat sudah turun. Apakah lagi dengan naiknya harga beras sekarang ini, daya beli masyarakat makin turun. Bahkan dalam hitungan KSPI daya beli buruh turun 20 – 25 persen dengan kebijakan upah murah dan naiknya harga beras seperti saat ini,” ucap Said Iqbal.

“Puncaknya dalam peringatan hari buruh tanggal 1 Mei 2018 nanti, ratusan ribu buruh akan masuk ke Jakarta untuk menyuarakan aspirasinya. Ratusan ribu buruh tersebut gabungan dari kaum buruh se-Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi,NTB, Maluku,danSumatera, dan berbagai daerah lain, yang akan memperingati aksi May Day di Istana Negara sebagai pusat pemerintahan,” pungkasnya. (Har)

Tinggalkan Balasan