Musyawarah Bersama Ikatan Wartawan Online ke-1

Media Doeta Indonesia, Jakarta, Senin 11 September 2017. Ikatan Wartawan Online ( IWO ) menggelar Musyawarah Bersama ke -1 selama dua hari di Hotel Puri Mega, Jalan Pramuka Jakarta, (Jumat – Sabtu  8-9 September 2017).31 pengurus daerah IWO se Indonesia dan 300 tamu undangan hadir dalam kegiatan bertema “Membangun Peradaban Pada Dunia Online “.

Mengundang beberapa narasumber antara lain Mayjen Putu Sastran Msc dari Lemhanas, Brigjen Yanfitri selaku Karo Multimedia Mabes Polri, Gildas Dengrat Lumy sebagai Ahli Cybercrime, Mohammad Sobary –  Budayawan, Prof dr. Hendry Subiakto mewakili Kominfo, Bobby Rasyidin – Presdir Tgr Investama Da Inisiator Mastel, Arqam Azikin – Ketua Dewan Etik Sulsel dan Uli Sigar Rusadi Artis dan Aktivis Lingkungan dan di moderatori oleh ketua IWO – Jodh Judono.

Dalam diskusi dibahas mengenai Keberadaan Ikatan Wartawan Online  sebagai organisasi profesi wartawan yamg turut membangun peradaban era digital ini dengan cara menyampaikan fakta dan menjauhkan dari kabar bohong, fitnah dan hoax.

Media Online sebagai sumber informasi tentunya amat penting peranannya dalam menyampaikan informasi yang utuh. Untuk itu IWO hadir sebagai wadah pekerja media online yang ingin berusaha menghindarkan masyarakat dari berita  dan kabar bohong.
Di media online lah sejatinya peradaban dibangun atau dihancurkan. Wartawan online membutuhkan perspektif dan wawasan yang luas sehingga fungsi digital bisa menjaga peradaban, sebagaimana budaya dan media online saling kait mengkait dan memiliki posisi yang strategis.
“Dikutip dari laman We are Social ( situs penyedia data pengguna internet dunia ), Januari 2017 dari sekitar 262 juta jiwa penduduk Indonesia 51% nya (132jt) telah menggunakan internet. Sedangkan jumlah Handphone yang beredar sebanyak 371,4 juta (140%) ini berarti tingkat ketergantungan internet masyarakat Indonesia sangat luar biasa.” ujar Brigjen Yanfitri Karo Multimedia Polri.
“Adanya kebijakan Presiden yang tertuang dalam Nawa Cita  diantaranya menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara serta reformasi sistem penegakan hukum , revolusi karakter bangsa serta memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia, Polri mencanangkan Program Optimalisasi Aksi Polri dengan mengacu pada Grand Strategy Polri.” Yanfitri menambahkan.

Yanfitri juga menjelaskan jika Program  Polri (Promoter)  telah menjangkau pengelolaan media online dan media sosial yang terhubung dengan jaringan internet yaitu yang terdapat dalam Promoter ke 8 program ke 6 yaitu Manajemen Media yang meliputi Pendekatan Terhadap Media Mainstream Kelola Media Sosial, Menggunakan Intelejen Media, Mengangkat Keberhasilan, Menekan Berita Negatif, Respon Cepat dan Netralisir Berita Negatif, dan kelola ” Trending Topik “.Harapannya menurut dia adalah  media online dapat memberikan kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyebaran informasi yang bersifat mendidik dan sebagai lembaga kontrol sosial mencegah terjadinya penyimpangan norma.

Untuk itu Polri mengajak kepada media online sebagai rekan kerja dalam mendiseminasi suatu informasi dan pesan positif kepada masyarakat.
Polri mengajak  pemilik media agar tidak menggunakan kekuasaan/power atas media yang dimilikinya unruk kepentingan pribadi dan golongan tertentu dan kepada Pemred agar dalam pemberitaan memegang prinsip kebenaran dan keberimbangan.
Selain itu,  para Jurnalis agar dalam penulisan berita berpegang pada kebenaran, disiplin melakukan verifikasi, independen, menjadi bagian dari forum diskusi yang positif bagi publik, marasi harus mengikat dan relevan, proporsional dan komprehensif serta mendengarkan hati nurani.

Sementara itu, Witanto selaku Sekjen IWO mengemukakan bahwa,“Mubes IWO I akan serius melihat persoalan perkembangan media sosial, dan akan mengambil peran berperang melawan berita hoax yang sangat merugikan dan menghancurkan keutuhan bangsa.”Witanto menambahkan, “IWO akan menggodok kode etik jurnalistik online, yang sampai saat ini belum ada pedoman bagi wartawan online. Padahal, kode etik adalah “kompas” bagi wartawan dalam penulisan berita, sehingga wartawan dalam menulis memahami apa yang diberitakan melalui kode etik media online.

“Kami juga ingin melindungi wartawan yang tergabung dengan IWO, dengan terbentuknya kode etik wartawan online. Perlu dipahami, bahwa kode etik wartawan online berbeda dengan kode etik wartawan cetak,”ujarnya.

Kegiatan Musyawarah Bersama 1 ditutup dengan pemotongan tumpeng bersama-sama.
(Ebud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *