Menara Pemuda dan Perdamaian, Semangat Pemuda Mewujudkan Perdamaian Dunia

Media Doeta Indonesa. Indramayu, 23 Oktober 2017. Menara Pemuda dan Perdamaian memiliki makna yang mendalam bagi perkembangan arsitektur di Indonesia, baik dari segi bentuk, fungsi, ketinggian, maupun filosofinya. Dari segi fungsi, Menara Pemuda dan Perdamaian memiliki fungsi multidimensi: 1. Penyiar berita, baik media televisi maupun radio, melalui antena; 2. Peneropong alam, baik langit maupun bumi, melalui teleskop; 3. Perkantoran, berupa kantor Lembaga Kesejahteraan Masjid Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin; 4. Penyedia makanan, berupa restoran yang dapat berputar 360 derajat; 5. Pengumandang azan, dan 6. Mercusuar, melalui lampu di puncak menara.

Dari segi bentuk, Menara Pemuda dan Perdamaian memiliki bentuk arsitektur baru, yaitu bentuk segidelapan (dari lantai dasar hingga puncak berbentuk segidelapan). Menara Pemuda dan Perdamaian memiliki bentuk yang berbeda dengan kebanyakan menara masjid yang ada di dunia.

Menara berasal dari bahasa arab manaarah yang artinya ” Tempat Api “

Dari segi ketinggian, Menara Pemuda dan Perdamaian berada di posisi ketiga di dunia. Yang pertama adalah menara Masjid Mohammadia Mega di Aljazair dengan ketinggian 270 meter. Yang kedua  Menara Masjid Hasan II di Casablanca, Maroko, dengan ketinggian 210 meter. Yang ketiga Menara Pemuda dan Perdamaian dengan ketinggian 201 meter. Ketinggian Menara Pemuda dan Perdamaian sesuai dengan asma nabi, yaitu 201 nama. Ini berarti selaras dengan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin yang memiliki sisi-sisi bangunan sesuai asma Allah.

Dari segi filosofi, kata menara yang berasal dari bahasa Arab manaarah ini memiliki makna “Tempat Api”. Makna api di sini berarti suluh di tengah kegelapan atau semangat yang menyala-nyala. Berkaitan dengan semangat ini adalah kata “Pemuda” yang penuh dengan energi. Pemuda di sini adalah manusia-manusia terdidik dan beradab yang berkehendak mewujudkan perdamaian dunia.

Makna Menara Pemuda dan Perdamaian berarti sebagai manusia ciptaan Allah SWT harus memahami sesama maupun makhluk Allah SWT lainnya. Kalau ini sudah tertanamkan, tidak akan ada lagi saya manusia, saya orang Jawa, dan saya orang Islam. Dengan demikian tumbuh sifat toleran dan damai dalam kehidupan di muka bumi.

[Edy M]

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *