Kamis, Desember 14

IABIE : Guru Pembangkit Optimisme Bangsa  

Media Doeta Indonesia. Jakarta. Memperigati Hari Guru Nasional (HGN) 2017  pada 25 November lalu,  sebaiknya dijadikan kesempatan untuk merancang postur guru nasional yang ideal untuk meningkatkan daya saing bangsa. Postur guru nasional yang jumlahnya sekira tiga juta orang merupakan elemen bangsa yang sangat penting untuk membangun karakter dan rasa optimisme bangsa serta mencetak SDM unggul.

Bimo Sasongko, BSAE, MSEIE, MBA  selaku Ketua Umum dan Irwan Prasetyo M.Eng,  Sekretaris Jendral Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) dalam HGN 2017 mengeluarkan press release terkait dengan Tema HGN 2017 kali ini  “Membangkitkan Kesadaran Kolektif Guru dalam Meningkatkan Disiplin dan Etos Kerja untuk Penguatan Pendidikan Karakter”.

Bimo Joga Sasongko BSAE, MSEIE, MBA, Ketua Umum IABIE 2016-2019

Bahwa kesadaran kolektif bisa terwujud dengan hebat jika menekankan penghargaan esensial bagi profesi guru dan tenaga kependidikan. Penghargaan diatas diharapkan nyata dan relevan dengan kemajuan zaman.

Kini para guru memiliki peran startegis untuk menggelorakan optimisme.Karena optimisme adalah kunci proses memajukan bangsa. Apalagi pada saat ini media pemberitaan dipenuhi oleh berita kelabuyang menyesakkan dada. Berita buruk seperti itu tentunya sangat berpengaruh terhadap psikologi warga bangsa serta pembentukan karakter generasi muda.

Kasus korupsi, ketimpangan sosial dan pergulatan politik yang kurang fair serta menihilkan rasa keadilan kini mendominasi media mainstream dan sosial media. Hal itu telah mempengaruhi spirit kebangsaan dan menggerus energi kreatif bangsa. Padahal daya kreativitas adalah kunci daya saing bangsa.

Menggelorakan optimisme Indonesia sebaiknya dijadikan agenda para guru dengan mengemukakan tajuk “Indonesia Good News” dengan program konkrit berupa gerakan Indonesia berkreasi dan berinovasi, gerakan Indonesia produktif hingga gerakan Indonesia menggapai supremasi peradaban dan Iptek dunia oleh putra-putri bangsa. Para guru bisa mengatasi fenomena kegalauan bangsa yang terus menayang di hadapan publik. Tanpa energi optimisme rakyat, maka negara ini akan terus terpuruk.

Guru memiliki peran strategis untuk menyadarkan bahwa Indonesia adalah negara besar dengan potensi luar biasa, namun belum didayagunakan seoptimal mungkin. Negeri ini masih tumbuh dibawah kapasitasnya. Ibarat pabrik raksasa, namun kapasitas yang menganggur masih sangat besar dan harus segera dibangkitkan.

Para guru mampu berperan mewujudkan gerakan Indonesia kreatif dan inovatif. Guru bisa mendorong kegiatan kreatif apapun bentuknya hingga menjadi entitas ekonomi yang tangguh. Kegiatan itu mendasarkan diri pada filosofi alamiah tentang kemampuan merakit pada embrio makhluk hidup setelah mengalami fertilisasi.

Irwan Prasetyo, M.Eng
Sekretaris Jendral IABIE 2016-2-19

Gen yang mengatur dan mengendalikan proses dan kemampuan merakit diri sejak sel telur hingga terus membelah diri menjadi bentuk dan performansi yang paripurna disebut sebagai gen-gen homeotik atau homeotic genes. Pada diri anak manusia, gen tersebut terletak dibagian tengah kromosom 12, yang bisa dianalogikan sebagai proses kreativitas alamiah yang sangat menakjubkan dan merupakan gambaran akan kebesaran Alloh, Tuhan semesta alam.

Filosofi Homeotik sebaiknya dijadikan landasan para guru untuk mengembangkan daya kreatif Indonesia Raya. Bermacam proses kreatif anak bangsa bisa membelah diri sesuai dengan karakter dan relevansinya masing-masing sehingga mampu memfasilitasi potensi lokal untuk bersaing secara global.

Agenda HGN 2017 hendaknya bisa meningkatkan mutu pendidikan sekaligus bisa membentuk lumbung kreativitas anak bangsa. HGN merupakan titik tolak untuk mewujudkan guru ideal yang menjadi sosok inspiratif  dan penggembleng karakter bagi siswa. Hingga saat ini sosok guru yang inspiratif dan adaptif dengan kemajuan dunia jumlahnya belum menggembirakan.

Untuk membentuk guru yang ideal dan sumber inspiratif dibutuhkan wahana dan kesempatan bagi guru untuk mengikuti perkembangan global. Wahana tersebut untuk menunjang proses pengajaran serta meningkatan profesionalitas guru. Sedangkan kesempatan yang harus diberikan untuk guru adalah mengikuti pendidikan lanjutan ke  luar negeri atau mengikuti bermacam event tentang perkembangan metode pendidikan global dan Iptek yang relevan.

Foto saat  “Pelantikan Pengurus Pusat IABIE Periode 2016-2019”.

Jumlah guru yang memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan ( NUPTK) mencapai 3 juta orang. Jumlah tersebut sebagian besar sedang menunggu proses sertifikasi. Banyak yang kurang menyadari bahwa standar profesi guru yang digariskan dalam Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dengan cara uji sertifikasi sejatinya bukanlah tujuan akhir. Melainkan titik awal lintasan profesi guru untuk meningkatkan kompetensinya dengan progres yang lebih terukur.

Sebagai titik awal, sertifikasi mesti disertai dengan tingkat kesejahteraan dan pengembangan karir guru secara progresif. Para guru dari daerah yang memiliki prestasi tinggi berhak mendapat kesempatan untuk belajar di negara maju agar memiliki wawasan dan kompetensi kelas dunia.

Saatnya mewujudkan alokasi anggaran pendidikan yang benar-benar relevan dan tepat sasaran. PGRI yang menjadi wadah profesi guru sudah berkali-kali melakukan gugatan hukum terkait dengan implementasi anggaran pendidikan dalam APBN sebesar 20 persen seperti yang dinyatakan dalam UUD 1945. PGRI melakukan gugatan lewat Mahkamah Konstitusi (MK) terkait implementasi 20 persen anggaran pendidikan secara tepat. Karena selama ini persentasi anggaran tersebut dalam prakteknya di daerah sering bias sasaran. Bahkan anggaraan pendidikan banyak yang dimasukkan dalam pos dana alokasi umum (DAU). Sehingga alokasinya kurang relevan untuk sektor pendidikan.

Pentingnya anggaran pendidikan dilaksanakan secara konsisten agar tidak ada lagi gedung sekolah yang bobrok dan semua guru kondisinya melek teknologi karena infrastruktur dan alat peraga pendidikan yang canggih bisa terpenuhi.

Dalam lintasan sejarah Indonesia, para guru selalu menjadi penggembleng karakter anak bangsa dan pendorong perubahan. Para pahlawan bangsa sejak era pergerakan Budi Utomo hingga perang mempertahankan kemerdekaan RI, mereka kebanyakan berlatar belakang pendidik atau guru. Seperti halnya Panglima Besar Jenderal Sudirman yang memiliki latar belakang guru sekolah Muhamadiyah.

Para guru sekarang ini wajib mewarisi semangat juang para pahlawan bangsa. Guru harus yakin dan memiliki tekat kuat yang bisa membuat bangsanya melakukan lompatan yang tidak kalah dengan bangsa lain dalam merebut supremasi  dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *