Minggu, Februari 25

60 Tahun Hubungan Jepang – Indonesia, Bagaimana Peluang SDM Indonesia?

Media Doeta Indonesia- Jakarta.

Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) bersama kedutaan Jepang menyelenggarakan ceramah dan diskusi dalam rangka menyambut 60 tahun hubungan diplomatik Jepang-RI di Auditorium Kementerian Koperasi & UKM, dengan mengangkat tagline“Kerja Bersama, Maju Bersama!” Japan-Indonesia Strategic Partnership. Sabtu, 13 Januari 2018.

Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia Mr. Masafumi Ishii hadir didampingi Ketua Umum IABIE, Bimo Sasongko dan  sejumlah Alumni Penerima beasiswa Jepang serta beberapa mantan pejabat negara antara lain Poempida Hidayatulloh, Jimly Asshiddiqie, dan Wardiman Djojonegoro.

Ketua Umum IABIE, Bimo Sasongko menjelaskan bahwa kontribusi Jepang terhadap pembangunan Indonesia dalam berbagai bidang sangat berarti. Kondisi globalisasi dan persaingan bangsa-bangsa mengharuskan bangsa Indonesia mengoptimasikan dan memperbarui hubungan internasional, khususnya dengan Jepang. Kerjasama kedua negara dibidang perdagangan, investasi, kebudayaan, pariwisata ristek, hingga ketenagakerjaan perlu ditingkatkan dan disesuaikan dengan tantangan zaman. Penyesuaian tersebut tentunya sangat tergantung kepada kesiapan SDM yang berkompeten dan mampu menghadapi disrupsi yang tengah melanda dunia. Untuk itu pemerintah Jepang perlu ikut serta memperkuat postur SDM Indonesia demi kebutuhan pembangunan.

Menurutnya, untuk mencari peluang investasi ditentukan oleh kemampuan SDM yang memahami konsep value investment di berbagai negara, utamanya dari Jepang. Tahun 2018 menjadi warsa yang istimewa karena bertepatan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia. Dalam rangka itu IABIE memandang perlu menitikberatkan strengthening education partnership Jepang-RI. Disamping strengthening economic partnership dalam berbagai aspek lainnya yang selama ini sudah dilakukan.

Ketua Umum Ikatan Alumni Progam Habibie (IABIE) di Ambassador’s Talk Bersama Dubes Jepang

Meskipun jumlah mahasiswa/pelajar Indonesia ke Jepang dari 2012 hingga 2016 meningkat, namun jumlahnya kurang signifikan. Hingga 2016 jumlah pemuda Indonesia yang belajar di Jepang hanya 4.630 orang, atau sekitar 1,9 persen dari jumlah total mahasiswa asing yang belajar di sana. Kita prihatin melihat kenyataan jumlah mahasiswa warga negara Cina di Jepang mencapai 98.483 orang (41,1 persen). Dan Vietnam mencapai 53.807 orang (22,4 persen). Menimbang faktor luas wilayah Indonesia, jumlah penduduk dan skala pembangunan infrastrukur dan akivitas sosial, pariwisata dan budaya, mestinya jumlah orang Indonesia yang belajar ke Jepang paling tidak bisa mencapai 50 ribu orang.

Karena itu, kata Bimo dibutuhkan dorongan dan kemudahan (affirmative action) untuk meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang dengan cara yang extraordinary. Perlu mencari terobosan skema pembiayaan mahasiwa. Seperti misalnya dengan cara skema offset (imbal beli) yang pernah dijalankan oleh Presiden RI ketiga BJ Habibie. Dimana skema offsetmencakup transfer teknologi, co-production atau produksi bersama di Indonesia untuk komponen dan struktur, serta fasilitas pemeliharaan dan transfer teknologi dengan mendidik SDM.

Caranya dengan penguatan kerja bersama Jepang-RI dengan menambah secara signifikan mahasiswa Indonesia yang belajar ke Jepang. Sebaiknya pemerintahan kedua negara memakai kembali “Habibie Way” terkait perdagangan maupun perjanjian kontrak pembangunan infrastruktur dan proyek lainnya. Habibie Way menekankan transfer of technology (ToT) dengan mengirimkan SDM untuk belajar dan magang di luar negeri. Dengan demikian perusahaan dan industri Jepang yang ada di Indonesia bisa lebih cepat berkembang karena tersedia SDM yang berkompeten dalam jumlah yang cukup. Apalagi selama 10 tahun terakhir perusahaan asing di sini selalu kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya.

Merupakan misi besar bagi Bapak Dubes Ishii untuk mewujudkan Strengthening Education Partnership Jepang-RI. Terutama dibidang pengembangan SDM di garis depan pembangunan infrastruktur, usaha mitigasi bencana, intelijen investasi serta antisipasi era industri 4.0. Yang mana negara Jepang tentunya sudah sangat siap dan menjadi leader dalam menyongsong era tersebut.

Karenanya menurut Bimo, Penguasaan Bahasa Jepang sangat penting bagi SDM pertambangan. Karena Jepang dimasa mendatang akan menjadi kiblat teknologi tambang bawah tanah. SDM Indonesia perlu transfer teknologi tambang bawah tanah. Perlu mengirimkan mahasiswa dan pekerja untuk mendalami mining safety and processing technology. Pengiriman SDM itu bisa bekerja sama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Coorporation (JOGMEC).

untuk itu, kata Bimo di Indonesia harus diperbanyak kelas-kelas berbahasa Jepang di Indonesia seperti yang dilakukan oleh IABIE memberikan kursus gratis bahasa Jepang bagi anak-anak muda, SMA, mahasiswa juga jurnalis.

Untuk mendorong minat Pelajar Indonesia untuk belajar ke Jepang pemerintah Jepang tengah rutin menggelar Festival budaya di Indonesia. Selain itu,Pemerintah Jepang juga memberi kemudahan dengan tidak membatasi kuota dan masa tinggal bagi pelajar Indonesia yang akan belajar di Jepang. “tidak ada pembatasan tinggal bagi pelajar Indonesia di jepang,” kata Dubes Ishii.

 

(Red)

Tinggalkan Balasan